Penyakit Estrim Ketika Mendaki

0 comments

Penyakit Estrim Ketika Mendaki. Penyakit yang extrim terjadi ketika mendaki perlu di waspadai agar jangan sampai merengut nyawa. Artikel ini sebenarnya adalah lanjutan dari penyakit ketika mendaki. Adapun penyakit yang akan saya sebutkan ini, membutuhkan penanganan khusus karena akan berakibat fatal kalau salah penanganan.

1. Frostbite

Penyakit Estrim Ketika Mendaki


Biasanya terjadi ketidak dalam pendakian gunung es sebagai akibat membekunya sel-sel air diantara kulit dan kapiler (pembuluh darah kecil). Disebabkan temperature kulit dibawah suhu 10 derajat C
Gejalanya : Kulit padat, putih keabu - abuan. Jaringan kulit akan mengeras dan dapat meluas ke otot dan selanjutnya ketulang. Pada bagian yang terkena terasa dingin bahkan mati rasa.

Penanganannya: Bungkus bagian yang terkena dengan bahan yang kering dan tahan air (Water Crous). Masukkan penderita kedalam tenda, lalu masukkan bagian yang membeku ke dalam air hangat bersuhu 30 C. Hal yang menyakitkan apabila telah meluas, satu-satunya jalan ialah diaputasi (di potong bagian tubuhnya).
Penyakit Estrim Ketika Mendaki

2. Hipoksia

Hipoksia adalah kondisi simtoma kekurangan oksigen pada jaringan tubuh yang terjadi akibat pengaruh perbedaan ketinggian. Pada kasus yang fatal dapat berakibat koma, bahkan sampai dengan kematian. Namun, bila telah melewati beberapa waktu, tubuh akan segera dan berangsur-angsur membaik dan kembali ke kondisi normal.

Efek Hipoksia yang paling dini terhadap fisiologi tubuh ialah menurunnya pandangan di malam hari. Denyut jantung yang meningkat. Bila kondisi lebih tinggi lagi, ditemukan gejala seperti: rasa mengantuk, lesu, kelelahan mental, sakit kepala, mual dan kadang-kadang euforia (rasa yaman yang semu).

Gejala sakit kepala sepertinya akan tampak dominan. Kalau berlebihan, membuat kejang mengakibatkan koma serta mati rasa. Daya untuk mengingat lingungannya pun menjadi berkurang, sehingga menyebabkan gerakan yang tidak terkontrol. Akibatnya, kemungkinan penyakitnya akan lebih besar lagi.
Beberapa Tingkatan Hipoksia
  • Hipoksia Fulminan. Dimana terjadi pernapasan yang sangat cepat. Paru - paru menghirup udara tanpa adanya udara bersih ( oksigen ). Sering dalam waktu satu menit akan jatuh pingsan.
  • Hipoksia Akut. Terjadi pada udara yang tertutup akibat keracunan karbon monoksida. Misalnya, seorang pendaki gunung tiba - tiba panik tatkala udara belerang datang menyergap. Udara bersih tergantikan gas racun, akhirnya paru - paru tak kuasa menyedot udara bersih. Mendadak ia pingsan.
Dampak yang di timbulkan dari hipoksia ialah : Kesulitan dalam koordinasi, berbicara, dan konsentrasi. Kesulitan bernapas, mengantuk, kelelahan dan sianosis. Penurunan penglihatan, pendengaran dan fungsi sensorik lainnya. Keringat dingin

Proses Hipoksia timbul dengan perlahan. Biasanya pendaki gunung yang terlalu lama dalam perjalanan pendakian, sesampainya di rumah tubuhnya tidak bisa menerima perubahan suhu. Hipoksia yang terjadi berjalan agak lama. Tentu saja hal ini akan mengganggu proses pernapasan yang dilakukan paru - paru.

Untuk mencegah dampak buruk dari Hipoksia, para pendaki gunung yang sebelumnya mengidap penyakit jantung, pernapasan clan sirkulasi darah dianjurkan untuk tidak mencapai ketinggian yang melebihi daya tahan tubuh. Dengan demikian, sebelum mendaki gunung periksa keadaan tubuh diri sendiri. 

Kemampuan dan pengetahuan akan kodisi pribadi mutlak di perlukan untuk mencegah penyakit extrim ini timbul. Walaupun bisa jadi jarang terjadi, namun tidak menutup kemungkinan kita untuk mempersiapkan kondisi dan pengetahuan tentang penyakti Penyakit Estrim Ketika Mendaki.
Share this article :
 
Support :
Copyright © 2011. Id Survival - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by Drieant
Proudly powered by Blogger